”Sektor pertanian turut mendongkrak
pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2017. Hal ini tidak terlepas dari
upaya Kementerian Pertanian (Kementan) untuk terus mendorong peningkatan
produksi pangan. Apalagi sudah masuknya panen raya pada periode ini.
"Meningkatnya kontribusi sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi tidak terlepas dari upaya pemerintah untuk terus mendorong peningkatan produksi pangan, terutama komoditas-komoditas strategis," kata Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Agung Hendriadi dalam keterangan tertulis, Senin (8/5/2017).
Baca: http://belajarmodernzaens.blogspot.co.id/2017/09/kelebihan-pers-jokowi-bidang-proyek.html
"Meningkatnya kontribusi sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi tidak terlepas dari upaya pemerintah untuk terus mendorong peningkatan produksi pangan, terutama komoditas-komoditas strategis," kata Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Agung Hendriadi dalam keterangan tertulis, Senin (8/5/2017).
Baca: http://belajarmodernzaens.blogspot.co.id/2017/09/kelebihan-pers-jokowi-bidang-proyek.html
Agung menjelaskan upaya tersebut dilakukan di antaranya melalui peningkatan
luas tambah tanam (LTT) padi. Selain itu, ada juga program pemberian berbagai
bantuan pra sarana dan sarana pertanian.
Untuk komoditas beras, hingga September 2017, Kementan menargetkan peningkatan luas tambah tanam padi menjadi 7 juta hektare (ha). Luas tambah tanam tersebut dilakukan pada 17 provinsi yang menjadi daerah penghasil beras.
Pada bulan Januari-Maret 2017, produksi beras nasional telah mencapai 16 juta ton. Pada akhir tahun 2017, diharapkan produksi beras bisa mencapai 49 juta ton atau setara produksi padi 85 juta ton.
Kontribusi pertanian pada pertumbuhan ekonomi selama tahun 2016 juga naik signifikan pada kuartal IV/2016 sebesar 0,58%, naik dibandingkan kuartal I/2016 yang hanya 0,19%.
baca juga: http://belajarmodernzaens.blogspot.co.id/2017/09/ciri-ciri-tumbuhan-dalam-al-quran.html
Sebelumnya Kepala BPS Suhariyanto mengatakan sektor pertanian mengalami pertumbuhan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Seluruh sub sektor pertanian naik, kecuali hortikultura. Paling tinggi tanaman pangan sebesar 12,96% (pertumbuhannya)," jelas Suhariyanto.
Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I-2017, sektor pertanian menyumbang kontribusi terhadap PDB sebesar 13,59% dengan pertumbuhan 7,1% (year on year/yoy). Sektor pertanian menjadi salah satu penyumbang ekonomi terbesar.
Untuk komoditas beras, hingga September 2017, Kementan menargetkan peningkatan luas tambah tanam padi menjadi 7 juta hektare (ha). Luas tambah tanam tersebut dilakukan pada 17 provinsi yang menjadi daerah penghasil beras.
Pada bulan Januari-Maret 2017, produksi beras nasional telah mencapai 16 juta ton. Pada akhir tahun 2017, diharapkan produksi beras bisa mencapai 49 juta ton atau setara produksi padi 85 juta ton.
Kontribusi pertanian pada pertumbuhan ekonomi selama tahun 2016 juga naik signifikan pada kuartal IV/2016 sebesar 0,58%, naik dibandingkan kuartal I/2016 yang hanya 0,19%.
baca juga: http://belajarmodernzaens.blogspot.co.id/2017/09/ciri-ciri-tumbuhan-dalam-al-quran.html
Sebelumnya Kepala BPS Suhariyanto mengatakan sektor pertanian mengalami pertumbuhan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Seluruh sub sektor pertanian naik, kecuali hortikultura. Paling tinggi tanaman pangan sebesar 12,96% (pertumbuhannya)," jelas Suhariyanto.
Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I-2017, sektor pertanian menyumbang kontribusi terhadap PDB sebesar 13,59% dengan pertumbuhan 7,1% (year on year/yoy). Sektor pertanian menjadi salah satu penyumbang ekonomi terbesar.
SOLUSI PEMBANGUNAN PERTANIAN
INDONESIA
UNTUK MENINGKATKAN KETAHANAN
PANGAN
Pertanian merupakan jantung
pertahanan bagi ketahanan pangan Indonesia saat ini. Selain itu juga, pertanian adalah sektor utama penyedia bahan pangan, baik
bagi manusia maupun pakan bagi ternak/hewan dan ikan yang merupakan bagian dari
siklus pertanian itu sendiri. Meninggalkan sektor pertanian dalam pembangunan
nasional, terutama dalam ketahanan pangan akan membawa bangsa ini kepada
krisis. Namun, membangun pertanian Indonesia tanpa komitmen untuk meningkatkan
kesejahteraan petani, peternak, dan nelayan akan membawa bangsa ini kepada
krisis keadilan juga. Dari gambaran krisis ini, terdapat kaitan yang sangat
erat antara ketahanan pangan dan pertanian yang tidak dapat dipisahkan. Tanpa
pertanian yang maju, ketahanan pangan tidak akan sukses, dan tanpa
ketahanan pangan yang baik, bangsa ini akan mengalami suatu masalah yang sangat
serius yaitu kelaparan dan kemiskinan. Tetapi masalah itu dapat kita selesaikan
dengan menjadikan pertanian Indonesia yang menjadi solusi untuk meningkatkan
ketahanan pangan di negara kita.
Mendorong pembangunan
pertanian yang menjanjikan merupakan salah satu usaha untuk mensejahterakan
rakyat Indonesia khususnya. Tentu pemikiran ini adalah sebuah langkah untuk
menaggapi permasalahan kemiskinan dan kelaparan di Indonesia. Usaha memajukan
pertanian ini akan terus disempurnakan sehingga sampai pada langkah-langkah
operasional yang diperlukan pemangku kepentingan dalam pemberdayaan pertanian
ini.
Berbagai bentuk krisis
pangan telah terjadi selama ini yang merupakan bukti bahwa lemahnya
sektor pertanian dalam pemenuhan pangan di Indonesia, sehingga mengakibatkan
banyak terdapat keluarga petani Indonesia yang ketahanan pangannya rendah
yang mengakibatkan kemiskinan bahkan menimbulkan penyakit kekurangan gizi
pada anak-anak dan penyakit busung lapar. Sehingga solusi terhadap persoalan
pangan ini akan selalu terkait dengan masalah kemiskinan dan kelaparan.
Kesejahteraan petani yang relatif
rendah saat ini akan sangat menentukan prospek ketahanan pangan di Indonesia ke
depannya. Kesejahteraan tersebut diakibatkan oleh berbagai faktor
yang timbul dan keterbatasan petani, diantaranya yang paling utama
adalah :
a. Sebagian petani
miskin karena memang tidak memiliki faktor produktif yang mendukung
pekerjaan mereka, kecuali tenaga kerjanya
b. Luas lahan
pertanian yang sempit dan mendapat tekanan untuk terus terkonversi
c. Terbatasnya
akses terhadap dukungan layanan pembiayaan dan penyuluhan pertanian
d. Tidak adanya
atau terbatasnya akses terhadap informasi dan teknologi yang lebih memadai
untuk mereka terapkan
e. Infrastruktur
produksi (air, listrik, jalan, telekomunikasi) yang tidak memadai
f. Struktur
pasar yang tidak adil dan eksploitatif akibat posisi rebut-tawar yang
sangat lemah
g.
Ketidak-mampuan, kelemahan, atau ketidak-tahuan petani itu sendiri.
Estimasi kebutuhan pangan yang ideal
harus disediakan dan dikonsumsi masyarakat untuk mencapai gizi seimbang yang
dapat diproyeksikan dengan pendekatan interpolasi linier untuk mencapai Skor
PPH 100 pada tahun 2020. Penetepan angka 2020 ini merupakan kesepakatan yang
diambil dan didasarkan atas pertimbangan bahwa setelah mencapai MDGs (Millenium
Development Goals) tahun 2015 (menurunkan kelaparan sampai setengahnya). Adapun
Proyeksi Konsumsi dan Penyediaan Pangan di Indonesia dengan mengacu PPH pada
tahun 2020 disajikan pada tabel berikut ini.
|
No
|
Kelompok/Jenis Pangan
|
Konsumsi
|
Penyediaan
|
|
1
|
Padi-padian
|
-
|
-
|
|
Beras
|
21.728
|
23.901
|
|
|
Jagung
|
307
|
337
|
|
|
Terigu
|
1.961
|
2.158
|
|
|
Subtotal Padi-padian
|
23.987
|
26.386
|
|
|
2
|
Umbi-umbian
|
-
|
-
|
|
Ubi Kayu
|
5.242
|
5.767
|
|
|
Ubi Jalar
|
1.233
|
1.357
|
|
|
Sagu
|
222
|
245
|
|
|
Kentang
|
768
|
845
|
|
|
Umbi Lainnya
|
384
|
423
|
|
|
Subtotal Umbi-umbian
|
7.850
|
8.635
|
|
|
3
|
Pangan Hewani
|
-
|
-
|
|
Ikan
|
7.512
|
8.263
|
|
|
Daging Ruminansia
|
671
|
738
|
|
|
Daging Unggas
|
1.103
|
1.214
|
|
|
Telur
|
2.291
|
2.520
|
|
|
Susu
|
658
|
724
|
|
|
Subtotal Pangan Hewani
|
12.212
|
13.433
|
|
|
4
|
Sayur dan Buah
|
-
|
-
|
|
Sayur
|
14.277
|
15.705
|
|
|
Buah
|
5.785
|
6.363
|
|
|
Subtotal Sayur dan Buah
|
20.062
|
22.068
|
|
|
5
|
Minyak dan Lemak
|
||
|
Minyak Kelapa
|
906
|
996
|
|
|
Minyak Sawit
|
1.233
|
1.356
|
|
|
Minyak Lain
|
42
|
47
|
|
|
Subtotal Minyak dan Lemak
|
2.181
|
2.399
|
|
|
6
|
Kacang-kacangan
|
||
|
Kacang Tanah
|
223
|
245
|
|
|
Kacang Kedelai
|
2.533
|
2.786
|
|
|
Kacang Hijau
|
227
|
-
|
|
|
Kacang lain
|
-
|
-
|
|
|
Subtotal Kacang-kacangan
|
3.053
|
3.358
|
|
|
7
|
Gula
|
-
|
-
|
|
Gula Pasir
|
2.248
|
2.472
|
|
|
Gula Merah
|
269
|
296
|
|
|
Sirup
|
-
|
-
|
|
|
Subtotal Gula
|
2.617
|
2.878
|
|
|
8
|
Sayur dan Buah
|
-
|
-
|
|
Sayur
|
14.277
|
15.705
|
|
|
Buah
|
5.785
|
6.363
|
|
|
Subtotal Sayur dan Buah
|
20.062
|
22.068
|
|
|
9
|
Lain-Lain
|
-
|
-
|
|
Minuman
|
885
|
974
|
|
|
Bumbu
|
419
|
461
|
|
|
Lainnya
|
-
|
-
|
|
|
Subtotal Lain-Lain
|
1.308
|
1.439
|
Sumber : Martianto dkk (2006)
Pada tabel di atas terlihat, bahwa
sepanjang terdapat konvergensi dari jaminan interpolasi linear ini maka
ketahanan pangan nasional tidak akan berkurang. Namun, masalahnya sekarang
adalah masih adanya kekurangan dalam tatanan distribusi, akses, dan konsumsi
dari bahan pangan tersebut. Pada kenyataannya hal ini sangat sulit untuk
diatasi, sehingga menyebabkan kenaikan harga pangan di pasar sangat pesat
dibanding tahun 2007 yang mungkin dipengaruhi oleh faktor eksternal dan
internal juga.
Adapun faktor eksternal adalah : 1)
adanya kenaikan harga pangan di pasar dunia, 2) menurunnya produksipangan dunia
karena perubahan iklim terutama masalah kekeringan di negara produsen serta
menurunnya luas areal panen, 3) pengaruh kenaikan harga minyak bumi yang menyebabkan
ongkos produksi naik, 4) adanya perubahan iklim global dan konversi komoditas
pangan ke bahan bakar nabati, 5) adanya penguasaan perdagangan biji-bijian oleh
beberapa korporasi multinasional, dan 6) masuknya investor di bursa komoditas.
Penyebab faktor internalnya adalah: 1) adanya konversi lahan sawah untuk
pemukiman dan industri, 2)luas areal panen hanya mengalami peningkatan yang
sangat kecil (sekitar 1,4 % pada tahun 2008), 3) produktivitas relatif tetap,
4) margin yang diterima petani untuk tanaman pangan sangat rendah dibandingkan
komoditas hortikultura, dan 5) harga komoditas tanaman pangan yang relatif
rendah.
Pertumbuhan penduduk Indonesia yang
semakin pesat juga dapat mempengaruhi ketahanan pangan suatu negara. Penduduk
Indonesia pada tahun 2035 diperkirakan akan bertambah menjadi 2 kali lipat dan
jumlahnya sekarang, menjadi ± 400 juta jiwa. Dengan meningkatnya pendidikan dan
kesejahteraan masyarakat, terjadi pula peningkatan konsumsi/kapita untuk
berbagai pangan. Akibatnya, dalam waktu 35 tahun yang akan datang Indonesia
memerlukan tambahan ketersediaan pangan yang lebih dari 2 kali jumlah kebutuhan
saat ini.
Penduduk Indonesia 1900 - 2035
|
Tahun
|
Jumlah
|
|
1900
1930
1960
1990
2000
2035
|
40 juta
60 juta
95 juta
180 juta
210 juta
400 juta
|
Diawal abad ke 20, selama 30 tahun penduduk Indonesia
bertambah 20 juta jiwa, dan diawal abad 21, selama 30 tahun penduduk Indonesia
bertambah hampir 200 juta jiwa. Penduduk Indonesia menjadi 5 kali lipat dalam
waktu 100 tahun. Akibat pertumbuhan penduduk yang semakin pesat dan produksi
bahan pangan yang menurun di Indonesia, mengakibatkan Indonesia harus mengimpor
bahan pangan dari luar negeri. Contoh konkritnya adalah kedelai yang diimpor
pada tahun 1990-1998 hanya berkisar antara 343.000-541.000 ton, meningkat tajam
sejak tahun 1999-20007 menjadi antara 1.133.000-1.343.000 ton.
Dari permasalahan di atas, dapat
kita berikan argumen bahwa pertanian Indonesia masih memerlukan perhatian yang
sangat serius dari berbagai pihak untuk mensejahterakan petani dan untuk
meningkatkan ketahanan pangan di negara ini. Dan tidak lepas dari perhatian
pemerintah sebagai penyelenggara peraturan, pembinan dan pengawas terhadap
pertanian Indonesia. Masalah-masalah yang dihadapi negara kita ini bukanlah
yang pertama kali terjadi di dunia ini. Masalah yang kita alami ini telah
pernah dialami oleh banyak negara lain dan banyak yang dapat mengatasinya
dengan sukses. Seharusnya negara kita belajar dari pengalaman negara
tersebut untuk mengatasi masalah yang ini. Di samping itu juga peran masyarakat
maupun pihak swasta juga sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini serta
memajukan pertanian Inndonesia yang berkelanjutan.
Agar
penbangunan pertanian memiliki arah yang jelas dan berkesinambungan, negara
perlu menetapkan politik pertanian yaitu keputusan sangat mendasar dibidang
pertanian pada tingkat negara, yang menjadi arah ke depan, untuk menjadi acuan
semua pihak yang terlibat, dengan sasaran membangun kemandirian di bidang
pangan.
Memang, isu tentang
penbangunan pertanian sudah cukup lama dibahas, namun hingga saat ini belum
terlihat langkah-langkah yang kongkret serta efektif untuk meningkatkan
pertanian yang mandiri. Yang terjadi malah Indonesia semakin tergantung dengan
impor bahan pangan, serta kebijakan-kebijakan yang ditempuh pemerintah
justru semakin menekan pertanian Indonesia itu sendiri, seperti
membebaskan bea masuk untuk impor gandum dan kedelai yang menguasai pasar
Indonesia. Padahal pertanian Indonesia sangat mempunyai potensi yang besar
untuk dikembangkan. Untuk itu pemerintah berperan dalam memfasilitasi
kondisi yang kondusif bagi masyarakat dan swasta untuk berkiprah dalam
pembangunan pangan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan. Selain pemerintah,
kita juga perlu menjalin kerjasama dengan pemerintah untuk menanggulangi
masalah ketahanan pangan ini. Dan ini menjadi tanggung jawab semua
pihak. Untuk itu perlu dikembangkan suatu komitmen dan kerjasama diantara
semua pihak terutama dalam bentuk kerjasama yang erat antara pemerintah,
swasta, dan masyarakat (yang antara lain direpresentasikan oleh kalangan LSM
dan perguruan tinggi). Tugas pemerintah adalah menyelenggarakan pengaturan,
pembinaan, pengendalian, pengawasan terhadap ketersediaan pangan, kecukupan ,
perataan pangan, baik dalam jumlah, mutu, aman, bergizi, beragam, serta harga,
distribusi, daya beli masyarakat. Upaya untuk terciptaanya kondisi tersebut,
maka pemerintah menetapkan target pembangunan pertanian Indonesia ke
depannya, yaitu peningkatan pada produksi dan swasembada yang berkelanjutan,
diversifikasi pangan, nilai tambah pada produk pertanian Indonesia, daya saing dengan
produk luar, ekspor, serta peningkatan
kesejahteraan petani, peternak dan nelayan dengan visi pertanian Indonesia
tahun 2009-2014 adalah menjadikan Pertanian Indonesia menjadi pertanian
industrial unggul berkelanjutan yang berbasis sumberdaya lokal untuk
meningkatkan kemandirian pangan, nilai tambah, ekspor, dan kesejahteraan
petani. Oleh karena itu, perspektif baru yang harus
diterapkan adalah perspektif pembangunan pertanian yang berkedaulatan
berkeadilan, , dan berkelanjutan yang harus mewarnai pembangunan dan
penataan sektor dan bidang-bidang tersebut. Ketiga prinsip tersebut
didasarkan pada akar persoalan bangsa Indonesia yang masih terperangkap ke
dalam ketergantungan dengan pihak asing baik dalam pemikiran pembangunan,
peraturan perundangan, formulasi dan implementasi kebijakan, aspek-aspek
kehidupan sosial, maupun birokrasi.
Prinsip-prinsip pembangunan yang berkedaulatan adalah
mencakup hal-hal di bawah ini :
1) Pemikiran
pembangunan yang lebih mencerminkan kepada kedaulatan rakyat
2) Peraturan perundang-undangan
yang mencerminkan kedaulatan dan pemihakan terhadap kepentingan rakyat banyak
3) Kebijakan
ekonomi-politik yang berorientasi kepada sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat
4) Berdaulat
dalam pengalokasian sumber-sumber keuangan untuk kesejahteraan rakyat
5) Rezim devisa
yang lebih berdaya guna untuk pengembangan ekonomi yang mensejahterakan rakyat
6) Kedaulatan
atas pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat
7) Perlindungan
dan penguatan terhadap munculnya kelompok-kelompok tani, nelayan,
peternak, perkebunan yang berdaulat dalam mengatur dan mengembangkan
sumberdaya.
Prinsip-prinsip pembangunan yang berkeadilan adalah
sebagai berikut :
1) Pemikiran
pembangunan yang lebih menjamin keadilan bagi seluruh masyarakat
2) Kesetaraan
akses, pemanfaatan, dan kontrol bagi rakyat atas sumber-sumber ekonomi
3) Kebijakan
ekonomi-politik yang lebih berkeadilan bagi rakyat banyak
4) Keadilan
dalam alokasi sumber-sumber keuangan untuk mengoreksi ketimpangan sosial
ekonomi
5) Penegakan
hukum untuk menjamin keadilan dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber sumber
ekonomi bagi rakyat banyak
Adapun prinsip-prinsip berkelanjutan adalah sebagai
berikut :
1) Integrasi
prinsip-prinsip yang berkelanjutan dalam formulasi kebijakan, rencana,
dan program pembangunan
2) Pemulihan
kualitas lingkungan dan stok sumberdaya alam untuk mencegah ancaman terhadap
ketidakberlanjutan pembangunan
Perspektif baru pembangunan pertanian
ini mengajukan sumberdaya alam domestik untuk dikelola dengan berbasis
IPTEK yang tepat guna, memadai, dan mempunyai daya dukung lingkungan. Sehingga
perspektif pembangunan pertanian ini membutuhkan peran negara dan pasar secara
proporsional, tepat guna, dan bijak. Dalam kaitan tersebut, terdapat peluang
untuk menciptakan kebijakan fiskal progresif yang membangun infrastruktur
pertanian dalam arti luas dan perdesaan yang ditopang oleh kebijakan moneter
yang tepat serta pergeseran dari kebijakan sistem perbankan berbasis cabang
kepada sistem perbankan yang berbasis unit dimana pengembangan kebutuhan kredit
diidentifikasikan berdasarkan stimulus lokal. Dengan perspektif baru tersebut
maka diperlukan pengarahan kembali (redirecting) strategi
dan kebijakan pembangunan yang diharapkan mencapai bangsa mandiri yang didukung
pertanian dan pedesaan yang tangguh untuk meningkatkan ketahanan pangan.
Berdasarkan analisis terhadap krisis-krisis bangsa khususnya pangan, maka
reorientasi kebijakan dasar yang diperlukan adalah perubahan strategi
pembangunan dan penataan ruang berimbang yang berkelanjutan, penanggulangan
kemiskinan, reforma agraria, percepatan pembangunan pedesaan. Pengarahan
kembali strategi dan kebijakan ini dilakukan berdasarkan isu-isu krisis bangsa
yang sekarang ini terjadi. Perspektif baru pembangunan merupakan kerangka
memandang strategi dan kebijakan di bidang ekonomi, pangan, ekologi, dan
pertanian.
Referensi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar